Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

4 November 2010

Belajar dari Onta

Oleh Syaripudin Zuhri

Belajar dari Onta, mungkin banyak yang kurang memperhatikan bagaimana kisah seekor onta saat bekerja, berjalan dan mengangkut barang. Sungguh luar biasa, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari binatang yang kelihatan tak pernah muda, wajahnya memeles dan selalu kelihatn tua, tapi kesabarannya telah membuat manusia bergantung padanya, terutama di daerah padang pasir atau di daerah-daerah yang bergurun, seperti gurun Sahara, gurun Kalahari, gurun Gobi dan lain-lain. Melalui artikel singkat ini, saya ajak anda untuk belajar pada Onta.

Hari ini saya ajak anda naik onta di Moskow. Loh kok di Moskow ada onta, bukannya onta adanya di padang pasir sana? Mungkin ada pertanyaan semacam itu. Benar juga sih, selama ini kan yang diketahui masyarakat luas itu onta adanya di padang pasir atau di gurun Sahara, di benua Afrika sana. Namun jangan lupa, disebelah selatan Rusia berbatasan dengan negara-negara Uzbekistan, Turkmenistan, Kajastan, Cina dan lain-lain. Di negara tetangganya itu ada juga onta.

Oya, onta di Rusia biasanya digunakan untuk pertunjukan cirkus, di tempat cirkus yang dikelola sangat profesional di dekat Metro Yugojavadnaya atau yang di cirkus sentral onta sering digunakan. Nah kalau dimusim panas onta tadi obyekan untuk masyarakat, karena biasanya pertunjukan cirkusnya libur, libur musim panas. Nah coba, pemain cirkuspun ada liburannya, mereka memang sangat menghargai hak-hak buruh atau karyawan. Bahkan ada hari raya khusus karyawan, itu loh hari buruh internasional setiap tanggal 1 Mei, di hari itu mereka, karyawan, libur.

Bayangkan dengan kita, Indonesia, hak-hak karyawan bahkan dikebiri, ngelamar kerjaanpun sekarang banyak yang sampai tega-teganya menahan ijazah asli sang pegawai dan repotnya lagi sistem kontrak, yang membuat sang pengusaha sewenang-wenang terhadap karyawan, yang kapan saja bisa di PHK tanpa pesangon, dengan alasan pegawai kontrakan! Dan yang membuat lebih prihatin lagi, ngelamar kerjaanpun harus pakai pihak ketiga! Aneh-aneh aja. Kapan nih direalisasikan janji-janji kampanye bahwa akan dihapus sistem kontrak yang sangat merugikan karyawan itu?

Nasib orang rakyat kecil dimana-mana sama, dibuat nelangsa. Undang-undang tenaga kerja yang ada sekarang membuat karyawan yang tadinya sudah bahagai karena bila sudah lama menjadi pegawai akan diangkat menjadi pegawai tetap, nah sekarang menjadi menderita, karena mereka bukan diangkat malah di PHK! Orang yang sudah bekerja bertahun-tahun, eh malah turun "pangkat"nya, bukannya diangkat menjadi pegawai tetap, eh malah diturunkan menjadi pegawai kontrakan! Astagfirullah .... ini negara apa? Tugas negara kan mensejahterakan rakyatnya, bukan malah mensengsarakan rakyatnya. Undang-undang mestinya dibuat untuk kesejateraan rakyat, bukan hanya menguntungkan pihak penguasa dan pengusaha!

Ya ampun .... dosa apa bangsa ini, karyawan dimana-mana dibuat semacam onta perahan, kalau sapi perah sudah biasa, ini onta, jadi luar biasa dalam arti negatif. Coba lihat onta berjalan berkilo-kilo meter di padang pasar yang tandus sambil membawa barang-barang dipunggungnya dan harus terus berjalan tanpa minum lagi. Dan ontanya tetap diam... diam ... dan diam, jarang kita lihat onta mengamuk, kalau sapi atau kerbau mengamuk, kita sering lihat, tapi onta mengamuk, saya tak pernah lihat!
Ya karyawan, maaf, seperti nasib onta yang diperah, dipakai tenaganya, diperas tenaganya, sudah tua, selamat tinggal dan di PHK tanpa pesangon!

Asragfirullah. Atau memang pengusaha dan penguasa kongkolingkong alias "main mata" maka lahirlah undang-undang tenaga kerja yang sangat merugikan karyawan di mana-mana dan imbasnya juga kemana-mana, pengusaha semakin jaya, karyawan semakin nelangsa. Atau memang "onta" harus mengamuk, seperti sapi atau kerbau mengamuk? Inikah yang dinginkan, para karyawan harus ngamuk dulu, demo besar-besaran dulu, baru nasibnya diperhatikan oleh penguasa dan pengusaha! Kalau itu yang terjadi memang harus ada revolusi lagi!

Maaf, terlepas kekurangan di jaman Orba (Orde Baru) di jaman itu nasib karyawan relkatif lebih baik, lebih terjamin masa depannya, PHK jarang terjadi dan karyawan tenang bekerja, tanpa dihantui oleh PHK dan sistem kontrakan! Sekarang, astagfirullah .... nasib karyawan, ya itu tadi, seperti onta perahan, bukan lagi sapi perahan! Nasib karyawan, apa lagi yang karyawan kontrakan, siap "ditendang" kapan saja penguasaha mau.

Ayo bangkit rakyat kecil, menyatulah dalam doa, angkat tanganmu tinggi-tinggi, mintalah kepadaNya, agar nasibmu dirubah dan engkaupun dapat merubahnya! Ayo terus berjuang .... lawan itu kejaliman para penguasa dan pengusaha. Nasibmu telah dipermainkan oleh penguasa dan penguasaha dengan adanya sistem kontrak. Ayo bangkitlah....ayo bangunlah dirimu.... ayo rubahlah dirimu, nasibmu tidak akan berubah kalau engkau tak mau merubahnya.

Ayo maju ke DPR ... minta kepada DPR untuk merubah undang-undang yang telah menyengsarakanmu! Sistem kontraka membuatmu tak berdaya sebagai karyawan. Sistem kontrak telah membuat seperti onta perahan yang siap "ditendang" kapan saja oleh pengusaha. Ayo bangkitlah .... nasibmu ada ditanganmu sendiri, kamulah yang merubah nasibmu. Ayo sekali lagi bersatu dalam doa, angkat tinggi-tinggi tanganmu, mari minta kepadaNya, agar hidup kita menjadi lebih baik dan sitem kontrak segera dihapuskan! Mari minta kepada Allah SWT, agar pak SBY dan DPR segera menghapuskan sistem kontrak yang sangat merugikan karyawan dan ingat sebagian besar karyawan adalah rakyat kecil!

Jangan sampai rakyat kecil mengamuk, bila mengamuk terjadilah People Power! Bila rakyat semua sudah bergerak dan pergerakannya dikendalikan oleh Tuhan, maka penguasa dan pengsaha manapun tak akan mampu membendungnya! Kita tak berharap demikian, tapi kalau rakyat sudah begitu tertekan dan perut lapar sudah tak bisa ditahan, maka peristiwa itu akan kembali. Revolusi bisa terjadi lagi. Dan orde reformasi akan tamat.

Bangkitlah wahai orang-orang yang kecil, bila kau memang sekecil semut, jangan berjuang sendiri-sendiri, bersatulah hawai semut-semut kecil, jika mungkin jadilah seperti semua marabunta, bersatu dan menyerang, maka sebesar apapaun gajahnya, kau pasti menang, itu dengan syarat kau bersatu padu, berjuang karena Allah semata, bukan karena harta, tahta dan wanita!

Bila diatas kita melihat onta perahan, di bawahnya kita melihat semut! Onta dan semut bisa kita ambil pelajaran darinya. Dua hewan yang bertolak belakang bila dilihat dari segi ukuran, namun keduanya mempunyai kesabaran yang sama. Onta terkenal dengan kesabarannya menahan haus, onta yang mampu berjalan berkilo-kilo meter hanya sekali minum dan berjalannya bukan di tempat yang biasa, tapi di padang pasir yang kering dan tandus, sungguh contoh kesabaran yang luar biasa. Makanya Allah sampai berfirman dalam Qur’an:’ Apala yanjuruuna ilal ibili kaifa khulikot = Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta, bagaimana diciptakan” ( Al Ghasiyah:17).

Dari ayat di atas itu Allah SWT menantang manusia, siapapun dia adanya, para ilmuwan, agamawan atau sampai orang awam sekalipun, pertanyaan sama: Apakah mereka tidak memperhatikan Onta, bagaiamana diptkan? Onta yang sudah menjadai lebel sebuah merk dagang, bukan tanpa alasan. Onta yang sederhana dan mampu bersabar dan jarang mengamuk atau marah! Perhatikan kata-kata itu: Sederhana, sabar dan jarang marah!

Wah kalau manusia kebanyka mmepunyai tiga sipat dasar yang dimilki onta ini, yaitu sederhan, sabar dan jarang marah, niscaya hidup akan tentram dan damai. Bila demontarsipun demontrasi yang tetap sederhana, sabar dan tidak marah, alias bukan anarkis. Bila rakyat Indonesia yang sedang dililit berbagai macam persoalan hidup dan tetap berpegang pada sipat dasar onta ini, merekapun akan bisa menjalani kehidupan dengan baik!

Begitu juga dengan kesabaran sang semut, saat dimusim panas di Moskow mereka keluar dan cari makan untuk disimpannya untuk menghadapi musim dingin, yang entah dimana semut ngumpet, yang jelas di musim dingin yang namanya semut, lalat dan nyamuk tak ada di rumah! Kalau di Indonesia ada pepatah: “Ada gula ada semut!” Nah di Rusia, pepatah ini tak berlaku!, Anda tak akan menemukan semut dimusim dingin, walau anda meletakan gula sembarangan! Ajaib, semut menghilang dan entah bersembunyi di mana, namun saat di musim panas semut ini ada, walau tidak sebanyak di Indonesia.
Nah kalau semut sudah ada yang nulis di ruang ini, saya focus ke onta aja, tapi memang semut juga menraik, makanya saya singgung sedikit. Atau lain kali kita bicara banyak tentang semut, jadi peribahasanya untuk di Rusia kita balik: Ada gula, belum tentu ada semut!

Mari kita kembali ke onta, onta yang diperas tenaganya, namun tetap menunjukkan kesabarannya dan jarang mengamuk telah menjadi sumber pembelajarn yang sangat berharga, dan saya langsung teringat pada nasehat Rosululloh pada seorang sahabat” Jangan marah dan jangan mudah marah!” Onta dengan nalurinya bahkan sudah menerapkan hadist tersebut, masa manusia kalah dengan onta!

from : eramuslim.com

Ngidam Masjid

Berkeluarga kadang seperti menyelami dunia ghaib. Ada, tapi tak terlihat. Terlihat, tapi tak tersentuh.Tersentuh, tapi tak terasa.Sehingga, mereka yang berkeluarga bisa melihat, menyentuh, dan merasakan sesuatu yang benar-benar baru.

Semua manusia punya kecenderungan untuk berbagi dalam hidup bersama pasangannya. Buah dari kecenderungan ini pun menumbuhkan pohon baru yang kelak akan menghasilkan buah yang juga baru.

Di antara buah baru yang tumbuh adalah anugerah Allah berupa kehamilan. Inilah mungkin puncak dari sekian banyak rasa di hati suami isteri. Ada harap, was-was, keingintahuan, cinta,bingung, dan mungkin juga penasaran.

Kadang, semua rasa itu terkumpul dalam satu wadah emosi wanita hamil yang begitu unik. Orang pun menyebutnya ngidam. Hal itulah yang kini kerap dirasakan Bu Lia.

Calon ibu muda ini benar-benar merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari kursus, sekolah, bahkan pengajian sekali pun.

Memang, ia pernah mendengar cerita-cerita soal ngidam. Baca buku tentang tema itu juga sudah beberapa kali. Tapi, kenyataan benar-benar jauh dari yang pernah didengar dan dibaca. Sungguh, ngidam buat Bu Lia menjadi sesuatu yang benar-benar unik dan menarik.

Bersamaan dengan perutnya yang mulai membuncit, ada perasaan baru yang hinggap dalam emosinya. Bu Lia agak lebih sensi: gampang tersinggung, dan jadi manja ke suami.

Sebenarnya, yang diidamkan Bu Lia tergolong baik. Bukan sekadar makanan unik yang cuma nyangkut di lidah. Bukan juga hal-hal aneh yang nggak masuk akal. Tapi, sangat berkait dengan ibadah.

Entah kenapa, Bu Lia selalu ingin salat di masjid yang menurutnya sangat menarik dikunjungi. Bisa karena arsitekturnya, ukuran, atau hal lain yang unik. Dan ketertarikan itu bisa muncul hanya melalui gambar atau sekadar omongan dari orang lain.

Kalau ketertarikannya muncul, calon ibu yang berdomisili di kawasan perkampungan ini pun memohon dengan sangat ke suaminya. Bu Lia minta supaya diantar ke masjid yang ia inginkan. Dengan cara apa pun, pokoknya, ia harus bisa melihat, masuk, dan salat dua rakaat di masjid itu. Setelah itu, pulang.

Pernah suatu kali, seorang tetangganya baru pulang dari pasar di kota. Tetangga Bu Lia menceritakan bagaimana ramainya pasar itu. ”Wah, pasarnya benar-benar enak, Bu. Sejuk. Tidak panas seperti di kampung kita!” ucap tetangga Bu Lia antusias.

“Masjidnya gimana?” sergah Bu Lia tiba-tiba. Sang tetangga agak bingung. Soalnya, ia sedang cerita pasar. Lha, kok nyambungnya ke masjid. ”Wuih, masjid agungnya juga bagus, Bu. Besar sekali! Saya juga lewat situ,” sambung sang tetangga tidak kalah antusias.

Beberapa menit setelah sang tetangga pulang, Bu Lia pun minta diantar ke masjid agung kota. Padahal, hari sudah menjelang sore. Tapi, karena desakan yang begitu kuat, suami Bu Lia pun terpaksa mengantar isterinya menuju masjid agung di kota.

Setibanya di pintu gerbang masjid, Bu Lia berdiri mematung. Wajahnya begitu tenang seperti memandang taman bunga. Kekagumannya benar-benar melupakan rasa lelahnya yang menempuh perjalanan hingga hitungan jam. ”Masuk, yuk Mas!” ucap Bu Lia sambil menggamit tangan suaminya. Setelah salat dua rakaat, ia pun minta pulang.

Beberapa hari pun berlalu. Ngidam Bu Lia sempat vakum. Hingga suatu hari, ia menikmati pemandangan adzan maghrib di sebuah stasiun televisi. Beberapa tayangan tentang masjid mengiringi alunan kumandang adzan yang begitu syahdu. Dan, salah satu masjid tiba-tiba jadi bidikannya.

”Oh, itu Masjid Istiqlal!” ucap suami Bu Lia setelah sang isteri menanyakan. Seperti biasa, Bu Lia pun memohon dengan sangat untuk diantar ke masjid pilihannya itu. ”Itu jauh sekali, Dek. Itu di Jakarta. Bisa sehari semalam dengan bus,” jelas suami Bu Lia menunjukkan keberatannya. Tapi, karena desakan yang begitu kuat, sang suami pun menurut. ”Ini anak pertama, lho Mas!” bujuk Bu Lia menguatkan.

Setelah susah payah, Bu Lia dan suami pun tiba di Masjid Istiqlal Jakarta. Seperti biasa, usai salat dua rakaat, Bu Lia dan suami kembali pulang.

Di suatu pagi yang cerah, suami Bu Lia mengajak isterinya menjenguk Pak Kades dan isteri yang baru saja pulang haji. Suara letusan petasan sudah terdengar di sepanjang perjalanan. ”Cepat jalannya, Dek. Nanti keduluan orang-orang!” ucap suami Bu Lia begitu bersemangat.

Bu Lia dan suami mendapati Pak Kades dan isteri yang masih berpakaian putih-putih. Wajah keduanya masih menampakkan rasa lelah. Setelah bersalaman, Bu Kades pun berujar, ”Waduh Nak Lia. Masjid Haram itu benar-benar indah, lho. Wuih, pokoknya indah sekali!”

Saat itu juga, wajah suami Bu Lia tiba-tiba pucat. Ia tidak bisa membayangkan kalau setiba di rumah nanti, isterinya maksa minta diantar ke masjid di tanah suci Mekah itu. Hanya untuk salat dua rakaat. (muhammadnuh@eramuslim.com)

maaf tulisan ini saya copy tanpa ijin from : eramuslim.com

6 September 2010

Wasiat Dahsyat Penolak Kefakiran

Islam itu sangat solutif, berbahagialah bila engkau seorang muslim, apalagi seorang muslim itu adalah enterpreuner (red. Pengusaha), kalaulah dia yakin akan jalannya, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki, dan kedua : Kekuatan amalan ibadah dan doa.

Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)

“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)

Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.

Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.

Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya Allah, mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?

Banyak sekali hadist Nabi maupun kisah sahabatnya yang memberikan gambaran bagaimana seorang muslim berdoa, kesemuanya merupakan karuniaNYA agar ummat islam khususnya para pengusahanya agar memiliki pegangan dan panduan dalam melangkah di kehidupan dunia ini, menjadi pengelana yang tak akan tersesat di antara ujian kehidupan berupa kelapangan maupun kesempitan.

…………

Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.

Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”

Abdullah : “Dosa dosaku”

Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”

Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”

Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”

Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”

Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”

Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”

Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”

Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”

Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.

20 Agustus 2010

Berhentilah jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu yang menampungnya. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.” Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.

: : : : : : :

“Berkata (Musa), “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,” (25)
“Dan mudahkanlah untukku urusanku.” (26).

[Q.S. 20 : 25 - 26]

“Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” [Q.S. 2 : 286]

sumber : suluk.blogsome.com

Pengertian Ihsan

oleh : Herry Mardian, yayasan Paramartha.

Apa sih sebenarnya makna ‘ihsan’ itu? Kita sering sekali mendengar kata ini, atau membicarakannya pada orang lain. Tapi sebenarnya apa ya maknanya?

Kenapa sangat penting membahas arti kata ‘ihsan’? Karena sebagaimana diajarkan Jibril as. dan Rasulullah Saw (dalam hadits Bukhari 1 : 47), ‘Ihsan’ adalah salah satu dari tiga komponen yang membentuk ad-diin kita, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Jika satu komponen saja tidak ada, atau tidak paham, maka kita belum ber-diin dengan sempurna.

Jika kita sudah paham makna ‘ihsan’, kita juga akan bisa meraba maksud makna kata-kata turunannya seperti ‘hasan’, ‘ahsan’, ‘muhsin’, ‘hasanah’, dan lain sebagainya.

Umumnya kita secara awam mengartikan kata ‘ihsan’, ‘hasan’, ‘ahsan’ dan semua kata yang berkaitan, dihubungkan dengan kata ‘baik’ sebagaimana tertulis di kamus bahasa Arab. Jika ‘ihsan’ di sana diartikan ‘baik’, maka ‘muhsin’ adalah ‘orang yang baik’, atau ‘orang yang suka berbuat baik’, dan seterusnya. Oke, itu tidak salah sih. Tapi apa bedanya ‘ihsan’ atau ‘hasan’, dengan ‘khair’ (baik)? Masalahnya, istilah Arab dalam Qur’an itu sama sekali bukan bahasa Arab sehari-hari, sehingga beresiko tidak akurat, kabur atau terlalu umum jika diterjemahkan melalui kamus bahasa Arab sehari-hari.

Contoh, Q. S. Al-Baqarah [2] : 195:

“Innallaha yuhibbul-muhsiniin.”

Sesungguhnya Allah mencintai Al-Muhsiniin.

Jika ‘Al-muhsiniin’ diterjemahkan menjadi ‘orang-orang yang berbuat baik’ sesuai kamus bahasa Arab sehari-hari, maka artinya menjadi ’sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.’ Bener? Bener sih, nggak salah juga. Tapi kurang presisi, kurang akurat jadinya. Terlalu umum. ‘Berbuat baik’ itu sebaik apa? Koruptor, jika habis korupsi berbuat baik, apa iya jadi dicintai Allah? Pelacur, pezina, perampok, juga banyak yang baik, atau berbuat baik. Apa iya mereka dicintai Allah? Segampang itu?

Atau kita deh, yang merasa diri kita sebagai orang baik. Apa kita dicintai Allah, seperti cinta Allah pada para kekasih-Nya? Kok kita yang merasa sebagai ‘orang baik’ ini mau khusyu’ saja susah, kalau berdoa jarang makbul, hehe… Kok ya masih berani merasa diri menjadi bagian dari para muhsiniin sih… hehehe. Atau kadang-kadang kalau kebetulan pas baca ayat tentang ‘orang-orang yang berbuat baik’ pasti ngerasanya Qur’an lagi bicara tentang kita, hehehehe….

Contoh lain, sebuah hadits:

‘Dari Abu Darda`, Nabi Saw bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam mizan (timbangan kebajikan pada hari kiamat) selain dari husnul khuluq (diterjemahkan: akhlak yang baik).” (H.R. Abu Daud 4799 dan Tirmizi 2002 - Hadits hasan shahih).

‘Husnul Khuluq’, jika diterjemahkan menjadi ‘akhlak yang baik’, ya benar sih (‘husn’ = baik). Tapi sebaik apa? Koruptor atau perampok di contoh tadi, masak iya jika gemar korupsi atau gemar merampok tapi berakhlak baik, maka timbangan kebaikannya di hari kiamat nanti menjadi paling berat? Coba tanya ke nurani kita sendiri.

Jadi ihsan, hasan, muhsin, dan sebagainya itu walaupun memang hubungannya dengan ‘baik’, tapi jika konteksnya adalah kualitas sebuah sikap, maka ‘ihsan’ itu baik yang sekualitas apa? ‘Baik’ yang seberapa baik?

Kalau kita kembali ke hadits Bukhari 1 : 47 yang paling atas tadi, di sana Jibril as. dan Rasulullah Saw. mengajarkan makna ihsan pada para sahabatnya. Hadits ini adalah hadits yang terkenal sekali, dan saya yakin sahabat sekalian sudah pernah membacanya. Jadi disini haditsnya saya ringkas saja, karena aslinya hadits tersebut sangat panjang.

Jadi ketika itu, Rasulullah saw sedang bersama para sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang sangat tampan yang tidak mereka kenal wajahnya. Ia berpakaian sangat bersih, seperti bukan orang yang baru tiba dari perjalanan, walaupun dari wajahnya para sahabat tahu bahwa ia bukanlah penduduk sekitar. Lalu lelaki itu bertanya pada Rasulullah Saw., “Apakah iman itu?” Rasulullah menjawab dengan menyebutkan rukun iman.

Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah Islam itu?” Dan Rasulullah pun menjawab dengan menyebutkan rukun Islam. Pada pertanyaan yang ketiga, lelaki itu bertanya, “Apakah ihsan itu?”

Jawab Rasulullah,

“Anta’budallah ka annaka taraah, fa’illam takun taraah, fa’innahu yaraak.”

“Engkau mengabdi kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Setelah ini ada beberapa dialog lagi, kemudian lelaki itu pergi. Ketika para sahabat mencarinya dan tidak berhasil menemukannya, dengan keheranan mereka menyampaikannya pada Rasulullah karena lelaki itu menghilang demikian cepat. Jawab Rasulullah, “Dia Jibril, yang datang untuk mengajarkan manusia (para sahabatnya) tentang diin mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.

Nah, itulah ‘ihsan’. Ihsan kualitas yang pertama, adalah sebuah kualitas pengabdian seperti ketika kita telah melihat-Nya. Sedangkan ihsan kualitas yang kedua, adalah sekualitas ketika kita telah merasakan sepenuhnya bahwa Dia melihat kita, meskipun kita tidak (belum) melihat-Nya.

Jika kita telah melihat-Nya, mana bisa kita tidak mencintai-Nya? Mana bisa kita tidak takjub kepada-Nya? Mana bisa kita tidak rindu kepada-Nya, tidak ingin tunduk kepada-Nya? Dia yang tak terbatas, Mahaindah, Mahatinggi, Mahapengasih, Mahapenyayang. Mana bisa kita tidak takjub kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya, jika sudah mengenal-Nya? Bayangkan, bagaimana kira-kira kualitas pengabdian dari seseorang yang sudah merasa takjub kepada-Nya. Itu Ihsan dalam kualitasnya yang pertama.

Kalau pun kita belum melihat-Nya, ihsan kualitas kedua adalah ketika dalam setiap nafas kita, setiap saat, sepanjang jasad ini masih bernafas dan jantung masih berdetak, tidak sesaat pun diri kita pernah lepas dari kesadaran bahwa Dia melihat kita. Kesadaran yang tidak pernah putus, biar kita sedang dalam saat orgasme sekalipun. Kita ‘tenggelam’ dalam sebuah pemahaman bahwa kita ada dalam pengawasan-Nya, penjagaan-Nya, perlindungan-Nya, tuntunan-Nya. Padahal Dia adalah dzat yang tidak mengantuk, tidak tidur, dan tidak lalai.

Nah, seseorang dengan kualitas ihsan yang seperti ini, masih mungkinkah dia bermaksiat? Masih mungkinkah dia berkeluh kesah, tidak bersyukur? Mana bisa dia bertindak tidak santun dan sembarangan? Apa bisa orang yang sudah ada dalam penjagaan-Nya dan perlindungan-Nya sepenuhnya seperti ini, menjadi murung dan tidak bahagia? Kira-kira, bagaimana akhlaq dari orang yang ada di ihsan kualitas kedua ini?

Jadi kenapa Allah mencintai para Al-Muhsiniin, seperti disebut di Al-Baqarah [2] : 195 tadi? Jelas, karena mereka memiliki kualitas pengabdian yang seperti itu, lebih dari sekedar ‘orang baik’ atau ’suka berbuat baik’. Dan, Ihsan atau hasan lebih dari sekedar khair (baik).

Sekarang pun lebih jelas makna hadits dari Abu Daud dan Tirmidzi tadi, bahwa ‘tidak ada yang lebih berat dalam mizan, selain husnul-khuluq (akhlaq yang ihsan)’. Tentu saja, karena husnul-khuluq adalah akhlaq yang terbangun dalam diri seseorang karena seseorang melihat-Nya, atau setidaknya akhlaq yang terbangun adalah karena dia telah sepenuhnya ‘tenggelam’ dalam kesadaran bahwa Allah melihatnya. Husnul-khuluq bukan sekedar ‘akhlaq yang baik’.

Nah, dari arti ‘ihsan’ yang diajarkan Jibril as. dan Rasulullah Saw, kita sudah bisa memahami makna kata ‘muhsin’ dan ‘husn’ dengan sedikit lebih presisi lagi, bukan sekedar bermakna makna ‘baik’ dalam pengertian umum. Sekarang, kita bisa juga meraba makna kata-kata turunannya dalam Al-Qur’an, misalnya ‘ahsan’, ‘hasan’, ‘hasanah’, dan seterusnya.

Jadi kalau Qur’an menyebut ‘orang-orang yang ihsan‘ atau muhsiniin, itu kita bukan? Lha monggo kita tanya ke nurani kita masing-masing.

Oh ya, kita sekarang jadi lebih mengerti makna dari kalimat “kematian yang ‘husnul-khatimah’” kan? (‘khatam’ : akhir, selesai, penutup)

Semoga kita dijadikan-Nya termasuk kedalam Al-Muhsiniin dan diberi-Nya kematian yang husnul-khatimah.

Semoga bermanfaat.
Wassalaamu ‘alaikum Wr. Wb.

Herry Mardian.
sumber : suluk.blogsome.com/
Catatan: saya belum termasuk Al-Muthahharuun

5 Agustus 2010

Rusiapun Bertasbih !

Peradaban dimanapun adanya memang tanpa batas, siapa yang bisa membatasi penyebaran sebuah peradaban ? Siapa yang bisa menyetop sebuah peradaban ? Jangankan siapa, itu, orang, sebuah negara super canggihpun tak ada yang bisa membatasi menyebarnya sebuh peradaban.

Mengapa ? Karean peradaban itu sudah menyatu dengan sang pemabawa, yaitu manusia. Manusialah yang membawa peradaban itu, dengan sendirinya, kemanapun manusia berada, di situlah muncul peradaban. Jika mau ditelusuri sejarah peradaban kuno, seperti peradaban Cina Kuno, Mesir Kuno dan lain sebagainya, kita bisa melihat betapa manusia maju dengan peradabannya lebih dari 6000 tahun lalu.

Peradaban yang begitu besar dan maju hanya bisa dipelajari bagi manusia yang memang cinta pada hasil karyanya sendiri, karena dari karyanya itulah lahir peradaban, termasuk tasbih ! Ayo siapa yang berani bilang, tasbih bukan hasil karya gemilang manusia ?

Ayo siapa berani bilang bahwa tasbih bukan karya agung manusia ? Butiran tasbih yang kelihatannya sederhana, sebenarnya adalah hasil sebuah karya agung manusia yang mencoba mengagungkan asmaNya dengan menghitungnya dengan sebuah alat yang disebut tasbih !

Tasbih adalah sebuah siklus kehidupan yang tak pernah berhenti berputar, tasbih adalah gambaran sebuah karya agung manusia. Coba genggam tasbihmu ( Oh ..jangan-jangan tak punya tasbih yakh ? anak muda kok pegang tasbih, kampungan !

Mungkin itu kata orang. Atau … gengsi akh… masa kemana-mana membawa tasbih …. ! Tasbihkan pegangan orang-orang tua …. malu akh …. , bagitu banyak cara agar orang Islam jauh dari tasbihnya sendiri ! Bila itu benar, maka berhasil pihak “lain” membuat orang Islam jauh dari budaya Islam sendiri ).

Itu sama seperti di jaman Orde Baru dulu … orang sedemikian rupa … dijejali pola-pola Barat, sehingga malu memakai nama yang berbau Islam. Sehingga apa bila ada nama yang memakai kata “ Din “ atau berakhiran “ Din “ dibilang kampungan, sehingga sang pemilik nama, malu. Persis sama dengan yang sekarang ini, bila nama berbau Islam di paspor … seperti nama depan “Ahmad” atau “Muhammad” dan sebagainya bila masuk ke Eropa, apa lagi ke Amerika, pemerikasaannya di bagian imigrasi akan lebih panjang dibandingkan dengan nama –nama yang berbau Barat.

Bila pola ini berhasil, maka anak-anak yang baru lahir di awal abad ke 21 ini, akan banyak memakai nama berbau Barat, dibandingkan nama-nama yang Islami. Bila inipun berhasil, maka sekian tahun kemudian, bisa 25 atau 50 tahun kemudian … nama berbau Islam lenyap, inilah yang disebut perang peradaban !

Kembali ke tasbih, bila tasbih yang kelihatannya sederhana, namaun saat dipegang oleh oaring yang beriman, maka isinya adalah dzikir yang terus menerus berulang, dzikir yang terus menerus, tak henti. Nah kalau anak muda sudah dibuat” malu” sedemikian rupa menggengam tasbih …. Siap-siap tasbih akan lenyap dari peredaran.

Jika anak muda lebih bangga menggenggam Hp di tangan di bandingkan memutar tasbihnya, maka tanda-tanda kemenangan peradaban Barat terhadap peradaban Islam, walaupun ada yang mengatakan tak ada pertentangan antara peradaban Barat dengan peradaban Islam. Namun nyatanya dalam kehidupan sehari-hari nyata betul “pertentangan atau peperangan” tersebut.

Coba perhatikan …. Saat magrib tiba… dulu… anak-anak lebih banyak ke surau atau ke mushola untuk mengaji, sekarang menjelang magrib , bahkan pas waktu magrib … anak-anak sedang terpaku di TV, terpaku di game netendo atau yang sejenisnya, terpaku di internet dan sebagainya ! Mana suara pengajian? Ada.. itu di tape corder yang di perdengarkan melalui speker !

Jadi bukan lagi orang yang mengaji… tapi alat elektronik, bukan orang lagi yang adzan, tapi radio dan televisi ! Orangnya pada kemana ? yaitu tadi sedang nonton TV dan sedang menyetel radio atau sedang menggunakan internet. Salahkan menonton TV, mendengar radio atau menggunakan internet ? Tentu saja tidak, asal tahu waktu dan tempatnya.

Lalu apa hubungannya tasbih dengan perang peradaban Islam ? Banyak, mana buktinya ? Coba lihat saja sehari-hari…. Banyak tidak orang yang membawa tasbih di kota-kota besar di Indonesia ? Coba lihat di negara-negara Timur Tengah, Saudi Arabia, Mesir dan sebagainya, membawa tasbih bukan hnya golongan tua, tapi juga anak muda. Dan tak ada kesan kampungan ! Bahkan sering terlihat … pada tangan kanan tasbih dan sebelah kiri HP, benar-benar paduan dunia akherat !

Coba mari kita lihat di Indonesia, di kota-kota besar Indonesia, banyakah kita melihat seperti kondisi di atas ? Kalau iya, Alhamdulillah, itu artinya kebudayaan atau peradaban Islam masih jaya di Indonesia. Tapi kalu terjadi sebaliknya, dimana anak muda malu membawa tasbih, maka tanda-tanda peradaban Islam akan semakin mundur.

Loh apa hubungannya tasbih dengan peradaban Islam ? Mari sekali lagi ikita lihat, kalau tasbih masih bergelantungan di mobil-mobil orang Islam ( biasanyanya digantung di kaca spion bagian dalam, yang ditengah ) atau tasbih masih digenggam oleh orang Islam, maka itu tanda masih kuatnya peradaban atau kebudayaan Islam.

Walupun ada yang mengatakan, dzikir itu tak perlu tasbih, cukup dengan jari-jari tangan, yang katanya akan menjadi saksi di akherat nanti. Loh ketika tasbih di putar, bukankah pakai tangan juga ?

Nah tasbih ini juga merupakan hasil peradaban agung manusia, entah siapa yang memulai atau membuat tasbih ? Yang jelas tasbih sekarang ada di mana-mana, jangan di tanya di Saudi atau di Mesir, Ketika saya ke Swedia tahun 2007 lalu, ternyata di toko Souvenirpun ada di jual tasbih yang terbuat dari Kristal , ada asma Allah SWT dan Nama nabi Muhammad SAW yang terukir indah pada Kristal besar ! Ingat, itu negara yang bukan mayoritas Islam, tapi tasbih di buat dari Kristal, tasbih yang indah, dengan demikian berdzikir menjadi lebih bersemangat ! Nah begitu juga di Rusia, tasbih ada di mana-mana.

Lagi-lagi tentang Rusia yang memang di lihat dari berbagai segi unik, nah kali ini saya mau bercerita tentang tasbih. Loh kok tasbih sih , Jauh-jauh dari tanah air kok yang dibicarakan tasbih ? Nah inilah uniknya, mengapa ?

Coba kita perhatikan tasbih, tasbih alat untuk berzikir ini, yang biasanya terdiri 33 butir atau seratus butir dengan berbagai bahan. Ada yang terbuat dari kayu, batu, plastic, biji-bijian, Kristal bahkan ada yang terbuat dari gadingnya gajah purba, Mamuth,

Mungkin hanya di Rusia kita bisa mendapatkan tasbih di mana-mana. Tak terbayangkan ? kalau ada tasbih yang di jual Museum ! Kalau di Indonesia mungkin yang namanya tasbih hanya di jual di tempat-tempat yang berkaitan dengan keagamaan atau toko yang bernuansa keagamaan. Seperti di kios dekat masjid atau Mushollah atau di toko buku yang menjual kitab-kitab Al Qur’an, Hadist dan buku-buku yang keagamaan lainnya.

Namun bila kita di Rusia, di Moskow atau ke kota lainnya, kadang-kadang kita menemukan tasbih yang di jual di kios-kios yang menjual souvenir ! Dan tasbihnya berdampingan dengan tasbih untuk berbagai agama, ada tasbih untuk Islam, Kristen, Budha atau khong khu cu. Nah unik kan…?

Selama ini kan yang diketahui bahwa tasbih itu , apa lagi di Indonesia, tasbih itu hanya yang untuk muslim, yang jumlahnya 33 atau 100 butir ! Nah di Rusia juga ada tasbih untuk orang Kristen (rosario ), bedanyanya, di ujungnya tasbih itu bentuknya salib. Nah sedangkan tasbih untuk Budha atau Khong Khu Cu, biasanya bergambar dengan tulisan Cina atau ukiran seorang tua gendut, berkepala gundul dengan tasbih panjang di kalungi di lehernya.

Harga tasbihpun bermacam-macam, dari yang mulai 50 rubel sampai lebih dari 3000 rubel tergantung bahannya ! Pernah Saya melihat tasbih yang terbuat dari gading gajah purba, Mamuth, yang di jual di tempat pameran benda-benda seni di gedung kesenian Moskow, yang letaknya berhadap-hadapan dengan Park Kulture ( Sebuah taman tempat berlibur, sejenis dengan tempat rekreaksi keluarga ) yang dipisahkan oleh jalan yang melingkar di kota Moskow, disebut “ Golden Ring “ atau “ Jalotoy Kalso” nah tasbih itu benar-benar unik, karean memang di buat dari gading gajah tersebut, makanya harganya sampai di atas 3000 rubel, setara dengan 1 juta rupiah lebih !

Tasbih di Moskow , juga dapat kita beli di tempat-tempat rekreasi, seperti Kremlin… di kios-kios yang bereda di seketar Kremlin ini banyak kita dapatkan tasbih tersebut. Jadi tasbih di jual di tempat yang jauh dari kegiatan keagamaan !

Bila tasbih sudah ada dimana-mana, bukankah itu berarti secara tidak langsung Islam sudah menyebar ke mana-mana, menyebarnya melalui kebudayaan. Coba tengok … gereja-gereja di Rusia, kalau orang yang baru pertama kali melihat pasti akan menyangka, bahwa itu masjid ! Mengapa ? Ya karena gereja di Rusiapun berkubah, setengah lingkaran atau seperti mangkok yang tertungkup ! Loh bedanya di mana ? Ya diatas aja, kalau masjid puncak kubahnya bulan bintang, kalau di gereja puncak kubahnya salib, itu saja. Nah tempat ibadahpun sebenarnya adalah peradaban atau hasil budaya manusia, karena hasil budaya manusia, ya bisa saling meniru, siapa yang meniru siapa, itu perlu penelitian sejarah yang panjang !

Kembali ke tasbih, apa yang kita bisa perbuat dengan tasbih ? Ya paling tidak di masjid. Mushola, Surau atau di tempat-tempat pengajian ada tasbih. Mengapa ? Karena tasbih adalah alat untuk berdzikir, dengan adanya tasbih oaring akan spontan ingat dzikir, sedangkan dzikir adalah mengingat Allah SWT, jadi dengan adanya tasbih orang spontan ingat Allah !

Makanya mari kita “ memasyarakatkan tasbih dan mentasbihkan masyarakat ! “ Mulai dari kita sendiri dulu, paling tidak tak merasa malu mebawa tasbih, mungkin mulanya baru “pajangan” saja, lambat laut dengan tasbih menjadi berdzikir. Jangan tasbih hanya dijadikan judul novel atau judul film saja, yang ujung-ujungnya, ya soal cinta anak manusia yang bingung mencari pasangan hidupnya !

Ya boleh-boleh saja, lagi pula siapa yang melarang tasbih dijadikan judul novel atau film ? Tak ada yang melarang, hanya saja mari kita galakan tasbih yang sebenarnya, ya benar-banar tasbih untuk berdzikir kepada Allah SWT. Karena Allah sudah menjanjikan dalam firmanNya: “ hanya dengan berdzikir kepada Allah, hatimu akan tenang, hatimu akan damai dan jiwamu menjadi tentram “ Dan dzikir akan terasa lebih mantaf, bila tasbih yang kita pegang.

Tasbih sekali lagi memang hanya alat, tapi alat yang sederhana ini, bisa menjadi “senjata” ampuh melawan peradaban dan kebudayaan Barat, kalau orang Barat kebanyakan “ nyekek botol “ alias membawa minuman ke mana-mana, karena memang hobynya minum-minuman keras, maka mengapa kita yang muslim tidak membiasakan membawa Tasbih atau Al Qur’an ? Ayo mari kita galakan … sekarang juga, hari ini juga, saat ini juga membawa tasbih ke mana-mana ! Bukan sok alim …. tapi paling tidak ketika ada tasbih di saku dan terpegang tangan, spontan ingat Allah, karena ada alat ingatnya, yaitu tasbih !

Mari kita perangi kebudayaan atau peradaban Barat yang merusak, seperti perjudian, miras, narkoba dan lain sebagainya dengan “senjata” tasbih, karean dengan tasbih berarti secara spontan kita akan ingat Allah, bila ingat Allah, insya Allah kemaksiatan akan jauh. Mana buktinya ? Silahkan perhatikan mana ada orang yang lagi berjudi megang tasbih, mana ada orang yang sedang minum-minuman keras megang tasbih, mana ada orang yang sedang menggunakan narkoba megang tasbih ? Saya yakin tak ada, kalaupun ada, itu orang ”gila” , Hanya orang “gila” yang memadukan dzikir dengan maksiat !

Sedangkan kebudayaan atau peradaban Barat yang baik, bukan diperangi, tapi kita gandengkan dengan tasbih. “ Tasbih di tangan kanan, HP di tangan kiri “ atau “ Hati Mekkah, Otak Jerman “ bolah juga: “ Berzdzikir saat Berinternet “ semuanya memadukan dunia dan akherat ! Ayo pegang tasbih, ayo jadikan tasbihmu “senjata”mu melawan segala macam kemungkaran dan kemaksiatan. Insya Allah, taufik, hidayah, ridho dan ampunanNya selalu menyertaimu.

sumber : eramuslim

26 Juli 2010

Mutiara Que

  • Alloh itu dipatuhi dengan Ilmu (al hadits).
  • Hidup adalah perjuangan, tidak ada perjuangan tanpa keberanian, tidak ada keberanian tanpa keikhlasan.
  • Kegelapan tidak selamanya diartikan keburukan. Pada suatu saat dia memberikan gambaran kehidupan nyata agar kita tidak kembali pada kesalahan yang dilakukan.(Padi)
  • Sebuah senyuman memastikan langkah selanjutnya yang akan kita jalani.
  • Sukses bukanlah akhir tujuan melainkan hanya pengakuan atas kerja keras yang kita lakukan dengan penuh kecintaan.
  • Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti (kebijaksanaan).
  • To accomplish a great things, we must not only act but also dream, not only plan but also believe. (anatole france).
  • Sebua senyuman lahir pada awal manghadapi cobaan. Selepas menghadapi cobaan, senyuman kedua lahir sebagai senyuman kemenangan.(Padi) .
  • Stop dreaming Start action.
  • Pengetahuan adalah kekuatan.
  • Hiduplah dalam batasan hari ini saja, jangan risau dengan hari esok yang belum tentu datang. lakukan yang terbaik hari ini maka jika hari esok datang akan menjadi hari yang baik pula.
  • Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.
    Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed.(albert einstein)
  • Sang juara dihasilkan dari impian, keinginan dan visi. (Muhammad ali)
  • Dicintai seseorang secara mendalam memberi anda kekuatan, dan mencintai seseorang secara mendalam memberi anda keberanian. (Lao tsu)
  • Keutamaan akal ialah hikmah kebijaksanaan, dan keutamaan hati ialah keberanian.
  • Do'a adalah pengubah takdir.
  • Latihan membuat kesempurnaan.
    Exercise makes perfection.
  • Orang yang sukses berfikir dulu baru bertindak, orang yang gagal bertindak dulu baru berfikir.
  • Tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan.
    There is no success without sacrifice!
  • Kunci untuk bahagia adalah mempunyai mimpi.. kunci untuk sukses adalah membuat mimpi menjadi nyata.
    The key to happiness is having dreams..the key to success is making dreams come true.
  • Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain.
    Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them.
  • Rasa percaya diri adalah kunci rahasia pertama dari sukses seseorang.

29 Juni 2010

Bahasa Geram

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.

Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.
from : gusmus.net

22 Juni 2010

Sedekah itu Gak Nunggu Ikhlas

"Sedekah itu seikhlasnya" kalimat itu biasanya yang saya gunakan kalo diminta sumbangan. "Maksudnya seikhlasnya apa sih pak" tanya temen saya, "kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan", jawab saya. " sering sedekah?" tanya temen saya, " ya karena jarang punya uang ya jarang", jawab saya. " Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya", saya nambahin.

Lain waktu,

"Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah", kata anak saya, "Bilangin gak ada ", jawab saya. "Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja" kata hati saya.

Lain waktu lagi,

"Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid", kata istri saya. "Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya", jawab saya.

Kata "ikhlas" menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.

Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Pertemuan saya dengan komunitas TDA di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.


Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.


Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.


Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.


Coba simak;

Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?

Bukannya lebih baik;

Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas.....

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung....

..Just Action !!!

from : TDA (tangan di atas)



30 Mei 2010

Gusti Allah Tidak "nDeso"

Oleh: Emha Ainun Nadjib


Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun,"
kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid
untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak
miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan
ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point
pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang
kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan:
kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau
menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau
memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana
dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran,
membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,
dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka
beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka,
bukan membangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran,
tapi menginjak-injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi
menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi,
dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang
dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia
hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah
output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih,
kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.


Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat,
ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki
perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta
kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke
kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak
disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak
mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-
anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari
kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama
adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang
beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski
beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial
pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan
tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa
sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai
masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin
meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa
di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi
Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka." Hadis ini
memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.


Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual
yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai
tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan
intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat
dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh
status darinya. Ia puasa, ikut misa, kebaktian, atau membaca kitab suci,
bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain
menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri.
Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-
nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke
dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan.
Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki
pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan
batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu
menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada
kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.

Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan
lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan
ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis
dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap
hipokrit; kemunafikan.

Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang
bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah
dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang
melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara
penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat,
Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang
sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih
menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek
lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso,
Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak
umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi
mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan,
kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.
Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya
di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti
penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara
keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat
melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun
rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus
menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan rupiah uang dipakai
untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar
menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit.
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak
beragama.
Sumber: Jalal Center

19 Mei 2010

Ruh Kasih (Bilal bin Rabbah)

Link : http://eramuslim.com

Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya… Mudah-mudahan bermanfaat.


Bismillah, Assalamu’alaikum….

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan.

Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.
Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik.

Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad... ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.
Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa
masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.
“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”
Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.
“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.
“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.
Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.
Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.
Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.
Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.
Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.
Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.
Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.
Hingga suatu saat,
Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.
Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.
Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.
Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.
Wassalamu’alaikum
***
Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.