Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

12 September 2010

Semboyan Dakwah Wali Songo


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imron : 110).

Kurang lebih lima ratus tahun yang lalu walisongo berdakwah dan berkeliling kehampir seluruh pulau jawa, maka dalam masa yang relatif singkat, yang hampir penduduknya beragama Hindu dan Budha, maka berubah menjadi kerajaan Islam Demak. Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :

1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan
Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan.

2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap
Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa sebab yang nampak.

3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki
Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan.

4. Senjoto Kalimosodo
Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. (Kalimosodo : Kalimat Shahadat)

5. Digdoyo Tanpo Aji
Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik dan mentalnya namun mereka seakan-akan orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata.

6. Perang Tanpo tanding
Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat, bertengkar atau tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini.

7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan
Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.

8. Mulyo Tanpo Punggowo
Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi da’I yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan.

9. Sugih Tanpo Bondo

Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia.

**Semboyan seperti diatas sudah banyak dilupakan umat islam masa kini. Pesan Walisongo diantaranya pesan Sunan kalijogo diantaranya adalah :

1. Yen kali ilang kedunge
2. Yen pasar ilang kumandange
3. Yen wong wadon ilang wirange
4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi, maksudnya adalah : Apabila sungai sudah kering, pasar hilang gaungnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelana dari desa ke desa jangan kembali sebelum empat bulan untuk mendapatkan ilham (ilmu hikmah) dari Allah SWT.

**Para Walisongo berdakwah dengan mempunyai sifat-sifat diantaranya :

1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang
2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT
3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan
4. Semangat berkorban harta dan jiwa
5. Selau memperbaiki diri
6. Mencari ridho Allah SWT
7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan
8. Sabar menjalani kesulitan
9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
11. Istiqomah seperti unta
12. Tawadhu seperti bumi
13. Tegar seperti gunung
14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit.
15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.

Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Diturunkannya agama adalah agar manusia mendapat kejayaan didunia dan akherat. Segala kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keamanan, kedamainan dan lain-lainnya akan terwujud apabila manusia taat pada Allah SWT dan mengikuti sunnah baginda Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan atau secara seratus persen. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Nabi Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi adalah khusus mempunyai tanggung jawab penting. Misi pentingnya adalah untuk mengajak manusia dipermukaan bumi ini ke jalan Allah SWT.

Dikutip dari http://www.ajidedim.com/

8 Juli 2010

Peta Nusantara Ada sejak Zaman Majapahit


Sejarah mencatat bahwa kegiatan survei dan pemetaan di Nusantara dilakukan sejak delapan abad lalu. Salah satu buktinya, peta paling awal tentang Nusantara sudah dibuat oleh bangsa Nusantara sendiri pada masa Majapahit. "Itu menurut CJ Zandvliet dari Belanda dalam jurnal Holland Horizon tahun 1994," kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas pada peluncuran buku Survei dan Pemetaan Nusantara: 40 Tahun Bakosurtanal di Jakarta, Kamis (20/5/2010). "Peta administratif pernah dibuat pada masa Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit, dan diserahkan kepada tentara Yuan asal China, yang menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1292," ujarnya. Namun, sejarah juga mencatat bahwa peta pertama tentang Indonesia adalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke-15 ketika Laksamana Cheng Ho dari China melakukan pelayaran di wilayah negeri ini. Pemetaan Indonesia yang lebih maju, ujarnya, dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial yang awalnya datang sebagai pedagang dari mancanegara untuk mencari rempah-rempah. Pada penjajahan Belanda selama 3,5 abad itulah Belanda melakukan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah, dan menginventarisasi kekayaan hayati Nusantara sehingga muncul berbagai peta wilayah Nusantara yang karena keterbatasan teknologi memiliki akurasi rendah. Empat abad kemudian, ketika Indonesia telah lahir, pemetaan secara lebih detail belum ada. "Bahkan, berapa jumlah pulau di Indonesia belum juga diketahui dan baru dirintis pertama kali oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melibatkan tokoh Bakosurtanal," ujarnya. "Sejak beberapa tahun terakhir, Bakosurtanal tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi tinggi yang dimungkinkan oleh teknologi yang semakin canggih, dari mulai teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik pemrosesan data dengan sistem komputer," katanya. Sementara itu, pakar Sejarah LIPI, Dr Asvi Warman Adam, menegaskan pentingnya peta, yang disebutkannya sebagai satu dari tiga faktor yang membentuk suatu bangsa, selain sensus dan museum. "Peta merupakan tulang punggung bagi pembentukan suatu negara dan identifikasi suatu bangsa," katanya. Adapun sosiolog Imam Prasodjo di tempat yang sama mengeluhkan tersebarnya berbagai peta di berbagai institusi, seperti peta hutan gundul di Kementerian Kehutanan, peta tata ruang kota di Badan Pertanahan Nasional (BPN), peta fertilitas di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). "Negara kita terlalu senang membuat pengotak-ngotakan. Seharusnya, Bakosurtanal mengintegrasikan semua peta di berbagai institusi ini, dan menjadikan semua pemetaan Nusantara sebagai data digital yang bisa diakses semua orang," katanya. Buku Survei dan Pemetaan Nusantara yang tebal dan hanya dicetak 1.000 eksemplar tersebut selain berbicara mengenai peran survei dan pemetaan juga membahas peran Bakosurtanal dalam melakukan survei dan pemetaan nasional.
sumber : kompas.com

10 Juni 2010

Apotek, Buah Karya Peradaban Islam

Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam . Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

''Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam .

Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah - namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.

Perkembangan ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi. Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan. Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).

Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut. Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental Canon of Medicine.

Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Medicinis universalibus et particularibus dan Medicamentis simplicibus.

”Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,” papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh Jabir bin Hayyan. Selain itu, ada pula karya al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ''al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,'' ujar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan


Ilmuwan Muslim Penopang Apotek


* Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

* Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)

Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

* Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)

Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

* Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

from : islamic-center.com

Jejak-jejak Sejarah Peradaban Islam

Berkembangnya peradaban Islam karena dilandasi oleh semangat ketuhanan (tauhid). Berkembangnya agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di barat maupun timur, pada abad ke-8 sampai 13 Masehi mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya.

Tak salah bila peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Baghdad (Irak), Andalusia (Spanyol), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya. Menurut Ma'ruf Misbah, Ja'far Sanusi, Abdullah Qusyairi, dan Syaid Sya'roni dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, setidaknya ada dua sebab dan proses pertumbuhan peradaban Islam, baik dari dalam maupun luar Islam.

Dari dalam Islam, perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam itu karena bersumber langsung dari Alquran dan sunnah yang mempunyai kekuatan luar biasa. Sedangkan, dari luar Islam, peradaban Islam itu berkembang disebabkan proses penyebaran Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan, perkembangan institusi negara, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan daerah Islam.

Menurut Ma'ruf Misbah dkk, perkembangan peradaban Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah SAW sejak awal perkembangan Islam di Timur Tengah. Kemudian, dalam praktiknya, seiring dengan makin luasnya wilayah kekuasaan Islam, gesekan atau kebudayaan masyarakat setempat memengaruhi umat Islam untuk mengadopsi dan mewarnai peradaban lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

Dari proses semacam inilah, peradaban Islam terus berkembang dari peradaban kebudayaan, bangunan, bahasa, adat istiadat, hingga pada ilmu pengetahuan. Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

''Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis,'' ujarnya.

''Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Alquran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,'' terangnya.

Ma'ruf menambahkan, berkembangnya peradaban Islam itu disebabkan Islam meletakkan dasar-dasar kepercayaan murni. ''Keyakinan manusia hanyalah pada Tuhan, bukan pada benda, hawa nafsu, atau kemegahan. Semua kerja kemanusiaan hanyalah untuk Allah. Tidak ada yang perlu dipertuan dan dipertuhankan, kecuali Allah,'' tulisnya.

Karena itu, tak heran bila akhirnya kekuatan Islam yang bersendi pada Alquran mampu menaklukkan berbagai wilayah negara. Di mulai dari masa Rasulullah, kemudian diteruskan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa tabiin dan munculnya berbagai dinasti Islam di sejumlah negara, seperti Dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fatimiyyah, Ottoman, Mamluk, dan sebagainya.

Dari keyakinan itu pula, umat Islam mampu membentuk peradaban baru dan kebudayaan baru hingga menghasilkan berbagai macam peradaban di wilayah kekuasaan Islam tersebut. Seperti diketahui, menyebarnya agama Islam ke berbagai wilayah telah terjadi pertukaran kebudayaan antara satu negeri dan negara lainnya.

Bidang kebudayaan yang mulai tumbuh pada awal permulaan Islam itu adalah (a) seni bangunan sipil, seperti pembuatan gedung, istana, dan kantor pemerintahan; (b) seni bangunan untuk ibadah; (c) seni bangunan pertahanan militer, seperti benteng; dan sebagainya.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, dibentuk pula sejumlah departemen untuk mengurus kebutuhan negara Islam, seperti departemen masalah politik (nizham al-siyasyi), departemen administrasi negara (nizham al-Idary), departemen ekonomi dan keuangan (nizham al-Maly), departemen angkatan perang (nizham alHarby), serta departemen urusan peradilan dan kekuasaan kehakiman (nizham al-Qadla). Selain itu, pertumbuhan ilmu pengetahuan juga mulai tumbuh seperti ilmu tafsir, qiraat, ilmu hadis, nahwu, dan sebagainya.

Kehilangan spirit
Sayangnya, kata Hamid, perkembangan peradaban Islam itu secara perlahan kini mulai kehilangan spirit (roh) Islam. ''Arus modernisme dan posmodernisme yang mengalir ke dunia Islam bersamaan dengan globalisasi telah mengakibatkan proses desakralisasi ilmu,'' ujarnya.

Menurut Weber, hal itu akibat dari disenchantment of nature dan deconsencration of value. Keduanya merupakan inti dari doktrin sekularisme. ''Dengan sekularisme, Muslim kehilangan spiritualitas dalam berbagai bidang yan pada gilirannya telah membuat hilangnya moralitas (adab),'' jelas Hamid.

Belum selesai proses sekularisasi tersebut, kini muncul pula liberalisme, yaitu liberalisasi yang diembuskan oleh Barat. Akibatnya, kata Hamid, intelektual seorang Muslim menjadi ikut berpikir ala Barat (westernisasi). ''Dunia Islam saat ini dikuasi oleh peradaban materi dan hedonisme,'' tegasnya.

Ditambahkan Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam membangkitkan semangat umat kembali.

Mengenal Tokoh dan Warisan Peradaban I

Menurut Ma'ruf Misbah dkk dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, peradaban Islam dari masa Bani Abbasiyah hingga Dinasti Umayyah dapat dibagi menjadi beberapa bentuk, yakni kota pusat peradaban Islam, bangunan-bangunan, penemuan, dan tokoh-tokohnya.

A. Kota pusat peradaban
Kota-kota yang terkenal menjadi pusat peradaban Dinasti Abbasiyah antara lain:

Baghdad
Kota ini merupakan yang paling indah karena dikerjakan oleh lebih dari 100 ribu pekerja yang dipimpin oleh Hajaj bin Arthal dan Amran bin Wadldlah. Di kota ini, terdapat istana di pusat kota, asrama pegawai, rumah kepala polisi, dan rumah keluarga khalifah. Istananya bernama Qasruzzabad yang memiliki luas 160 ribu hasta persegi. Dibuat sangat indah dengan membujur empat jalan utama ke luar kota. Di kiri kanan jalan, dibuat gedung bertingkat. Di luar Kota Baghdad, dibangun kota satelit, seperti Rushafah dan Karakh. Kedua kota tersebut dilengkapi dengan kantor, toko-toko, rumah, taman, kolam, dan lainnya. Karena itu, Kota Baghdad menjadi kota impian seluruh dunia.

Samarra
Letaknya di sebelah timur Sungai Tigris, kurang lebih 60 kilometer dari Baghdad. Kotanya sangat indah, nyaman, dan teratur. Nama 'Samarra' diberikan oleh Khalifah Al-Manshur. Ketika peresmian kota, banyak orang yang terkesan dengan keindahannya. Hal ini sesuai dengan namanya Samarra yang berasal dari kata 'Sarra Man Ra'a' yang berarti senang memandangnya. Di kota ini, terdapat 17 istana yang sangat indah, cantik, dan mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lainnya.

Sevilla
Kota ini merupakan salah satu kota terindah di Spanyol dan terletak di tepi Sungai Guadal Quivir. Pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mulukuththawaif.
Di kota ini, dulu, dibangun sebuah masjid yang sangat megah. Namun, kini masjid itu telah menjadi Gereja Santa Maria. Menaranya mencapai 70 meter dengan dasar sekitar 13,60 meter.

Granada
Kota ini memiliki tanah yang subur. Di kota ini, dibangun sebuah istana yang sangat terkenal sampai kini, yaitu Istana Granada yang dibuat oleh raja-raja Akhmar dan diberi nama al-Hambra.

Cordoba
Kota ini didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil (Abdurrahman sang Penakluk, wafat 852 M). Puncak keemasannya dialami pada masa Sultan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasyir (w 961 M). Cordoba menjadi kota teladan di seluruh Eropa karena kota lainnya sangat kotor, becek, gelap, serta sepi. Sementara itu, Cordoba sangat indah, terang benderang, bersih, dan indah di pandang mata.

Qahirah atau Kairo
Kota Kairo didirikan oleh Jauhar As-Saqali tahun 358 Hijriyah sebagai pusat Dinasti Fatimiyah di Mesir. Di kota ini, terdapat Universitas Al-Azhar yang menampung ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.
Selain Universitas Al-Azhar, di kota ini juga terdapat Masjid Amru bin Ash.

B. Bangunan-bangunan

Madrasah
Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Di masa ini, didirikan madrasah yang diberi nama nizhamiyyah dan didirikan oleh Nizamul Mulk, seorang perdana menteri. Tak hanya di Baghdad, sekolah nizhamiyah ini juga didirikan di kota lainnya, seperti Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan, Mosul, Basrah, dan lainnya.

Kutab
Adalah tempat belajar para siswa (pelajar) dengan pelajaran tingkat rendah sampai menengah.

Masjid
Selain digunakan sebagai sarana ibadah, masjid juga digunakan untuk tempat belajar tingkat tinggi.

Majeslis Munadlarah
Merupakan tempat pertemuan para pujangga, ahli pikir, dan para sarjana untuk mendiskusikan berbagai topik ilmiah. Majelis ini banyak terdapat di berbagai kota.

Darul Hikmah
Adalah perpustakaan terbesar di masa ini. Ia didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan diteruskan oleh khalifah Al-Ma'mun (Almamoon).

Masjid Raya Cordoba
Dibangun pada tahun 786 M. Masjid ini dapat menampung hingga 80 ribu orang. Panjangnya mencapai 175 meter, sedangkan tiangnya berjumlah 1400 buah dengan tinggi mencapai 20 meter. Kubahnya disangga oleh 300 buah pilar marmer. Masjid tersebut kini telah menjadi gereja.

Masjid Ibnu Taulon Kairo
Dibangun tahun 876 M oleh Sultan Ahmad Ibnu Taulon. Di atas dindingnya terdapat balok memmbujur yang dihiasi dengan ayat Alquran. Balok ini diambil dari Gunung Ararat (Armenia, Turki) oleh Ibnu Taulon. Pilarnya menyerupai seni gothik dalam Gereja Masehi. Hiasannya bertuliskan Arab.

Istana Al-Hambra di Cordoba (Spanyol)
Al-Hambra merupakan sebuah istana yang permai. Di dalamnya terdapat masjid yang diberi nama Al-Mulk (Masjid Sultan). Masjid ini didirikan oleh Sultan Muhammad II.

Taj Mahal
Adalah sebuah bangunan indah bertahtakan ratna mutu manikam yang diciptakan oleh Sultan Syekh Jehan (1628-1657). Tempat ini dibuatnya sebagai persembahan untuk permaisurinya yang meninggal dunia. Taj Mahal terdapat di daerah Agra, India.

C. Penemuan dan tokoh-tokohnya

Dalam sejarah peradaban Islam selama lebih kurang delapan abad mengalami masa kejayaan, banyak penemuan yang berhasil dilakukan oleh ilmuwan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, di antara sebagai berikut.

Ilmu filsafat
Tokohnya antara lain Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Bajah (w 523 H), Ibnu Thufail (w 581 H), dan Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M). Ibnu Sina, selain dikenal ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya, seperti Qanun fi Thib, Asy-Syifa, dan lainnya.
Selain nama di atas, tokoh lainnya adalah Al-Ghazali (450-505 H/1058-1101 M). Beberapa karyanya adalah Ihya Ulum Al-Din, Tahafut al-Falasifah, dan al-Munqizh Minadl Dhalal.
Kemudian, ada Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M). Karangannya adalah Mabdiul Falasifah, Kasyful Afillah, dan Al-Hawi dalam bidang kedokteran.

Ilmu kedokteran
Selain Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Hunain bin Ishaq (194-264 H/810-878 M), Thabib bin Qurra (w 901 M), dan Ar-Razi (251-313 H/809-873 M).

Ilmu matematika
Dua orang tokohnya antara lain adalah Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga menemukan angka nol (0)). Sedangkan, angka 1-9 berasal dari India yang dikembangkan oleh Islam. Karena itu, angka 1-9 disebut pula dengan angka Arab. Namun, setelah ditemukan orang Latin, namanya pun disebut dengan angka Latin.

Bidang Astronomi
Tokoh perbintangan atau ilmuwan islam dalam bidang ini adalah Al-Fazari, Al-Battani, Abu Wafak dan Al-Farghoni.

Bidang Seni Ukir
Dalam bidang ini, umat Islam cukup terkenbal dengan hasil seni pada botol tinta, papan catur, payung, pas bunga, burung-burungan dan pohon-pohonan. Tokohnya antara lain Al-Badr dan Al-Tariff sekitar tahun 961-976 M. Seni ukir yang dikembangkan tidak hanya pada kayu tapi juga pada logam, emas, perak, marmer, mata uang, dan porselin.

Pendidikan, Modal Utama Mengembangkan Peradaban Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa peradaban adalah hal yang menyangkut sopan santun, budi pekerti, dan kebudayaan suatu bangsa. Definisi yang cukup singkat dan padat ini punya kemiripan dengan banyak definisi yang diajukan kalangan peneliti dan ilmuwan. Hampir semua definisi menyebutkan bahwa budaya, baik materi maupun nonmateri, termasuk dalam unsur peradaban.

Berkaitan dengan budaya sebagai unsur penting peradaban, Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam perbincangannya dengan Republika mengatakan, budaya adalah modal utama peradaban. Suatu bangsa atau masyarakat memerlukan modal untuk maju. Caranya, modal budaya ini dipelihara dan dikembangkan melalui sistem pendidikan yang baik agar melahirkan budaya tinggi (high culture), seperti ilmu pengetahuan.

"Peradaban tumbuh dari kebudayaan yang dikembangkan, dimodifikasi, dan ditingkatkan. Sebaliknya, jika kebudayaan dibiarkan saja tanpa perawatan dan pengembangan, yang terjadi adalah kemunduran peradaban," kata Komaruddin.

Banyak sudah bukti kemerosotan peradaban yang bisa dijadikan contoh. Dahulu, ada peradaban Mesir, Persia, Yunani, Romawi, India, dan Cina yang pernah mencapai puncak kegemilangan peradaban. Tetapi, peradaban-peradaban itu kemudian tenggelam dan muncul peradaban baru, salah satunya Islam. Adakah sesuatu yang berbeda dari peradaban Islam ini?

Menurut Komaruddin, peradaban umat-umat terdahulu bersifat lokal akibat minimnya kontak antara satu bangsa dan bangsa lain. Setiap peradaban berdiri sendiri-sendiri. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang secara mandiri tanpa pengaruh dari peradaban lain. Demikian juga peradaban Cina, India, Persia, dan Yunani Romawi.

Ini berbeda dengan peradaban Islam yang lahir sebagai ahli waris peradaban-peradaban sebelumnya. Dalam pengamatan Howard R Turner dalam bukunya Sains Islam yang Mengagumkan, umat Islam menerima warisan berharga dari budaya-budaya Asia, Yunani, Romawi, Bizantium, dan Afrika. Sebagian warisan budaya bangsa-bangsa terdahulu itu diterima apa adanya dan sebagian lain diubah.

Islam penerus peradaban lama
Keterbukaan Islam itu menghasilkan khazanah keilmuan dan kebudayaan yang melimpah. Mulai bidang seni, sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan berkembang sangat baik dalam naungan Islam. Menurut Turner, apa yang diwarisi oleh umat Muslim dapat ditelusuri ke masa Yunani kuno. Bahkan, konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang diperoleh dari Babilonia dan Mesir Kuno.

Di bidang seni musik, umat Islam meneruskan teori-teori musik dari Bizantium dan Persia. Literatur lengkap yang berkaitan dengan musik Arab mulai dikembangkan pada abad ke-8 oleh para sarjana dan spesialis Muslim. Pada masa itu, muncul nama yang sangat terkenal, yaitu al-Mawsili.

Selain bidang seni musik, sejak abad ke-9, para ilmuwan Muslim secara serius mengkaji warisan pemikiran ilmiah dan filsafat dari peradaban-peradaban terdahulu melalui kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa Arab. Umat Muslim tidak hanya menyerap dan menyistemasikan warisan yang berharga itu. Lebih dari itu, orang-orang Islam memperkayanya dengan penemuan-penemuan baru, terutama di bidang ilmu-ilmu pasti.

Turner mengakui apa yang dicapai oleh umat Islam pada masa kejayaannya belum pernah diraih oleh peradaban-peradaban besar sebelumnya. Islam, menurutnya, punya sistem dan tuntunan kehidupan yang tidak pernah dimiliki umat lain, yaitu Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Di sinilah, apa yang dikatakan oleh Komaruddin bahwa kebudayaan harus ditopang dengan sistem pendidikan menemukan korelasinya. Alquran adalah sumber ajaran dan pendidikan bagi umat Islam.

Dalam masalah Alquran sebagai tuntunan dan sumber pendidikan, Turner membuat ilustrasi yang menarik. Ia mengatakan, meskipun dari segi ukuran teritorial tidak ada perbedaan antara Romawi Kuno dan wilayah Islam, perbedaan pada bidang pemerintahannya sangat kentara. Pada masa puncak kejayaannya, kekaisaran Romawi diperintah oleh seorang kaisar melalui sistem hukum sipil yang ia warisi sesuka hatinya.

''Ini berbeda dengan Islam yang diperintah oleh banyak sekali dinasti-dinasti yang merdeka secara politik. Namun, para penguasa tidak menempatkan diri mereka di atas hukum Islam yang telah ditentukan dalam Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW,'' kata Turner.

Apa yang dikatakan Turner diamini oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama asal Mesir. Menurut Ghazali dalam bukunya Berdialog dengan Alquran, Alquran menuntun umat Islam ke arah perenungan sejarah yang mempelajari hukum jatuh bangunnya masyarakat.

Di samping itu, Alquran membeberkan peradaban bangsa-bangsa yang hidup pada masa lalu, ideologi, landasan etis, serta struktur politisnya secara gamblang untuk dijadikan bahan pelajaran.

Pandangan Orientalis tentang Peradaban Islam
Banyak pihak mengakui bahwa peradan yang berkembang di negeri Barat banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Bahkan, beberapa orang Eropa sendiri sebagian mengakui bahwa mereka tak mungkin mengenal kebudayaan dan peradaban sekarang ini kalau tidak diberikan oleh para intelektual Muslim.

Berikut ini beberapa ilmuwan Barat yang mengakui kemajuan peradaban Islam.
a. Prof Dr Charles Singer (seorang dokter)
''Di Barat, ilmu tasrih (anatomi) dan ilmu kedokteran sebenarnya tidak ada. Ilmu mengenal penyakit dipergunakan dengan cara yang bukan-bukan. Seperti dengan jengkalan jari, tumbuh-tumbuhan, tukang jual obat, dan takhayul sebagai sarana pengobatan.''

b. Prof HAR Gibb (guru besar London University)
''Sastra Barat berasal dari sastra Muslim. Hal itu tidak perlu dipertentangkan atau diperselisihkan lagi.''

c. Prof Leo Weiner (sastrawan Barat)
''Konflik pengaruh sastra Islam dengan sastra Eropa dimulai pada abad ke-8 Masehi.''

d. Dr Peter Du Berg
''Seorang pendeta bernama Peter the Venerable pernah berangkat ke Toldeo hendak menyalin Alquran. Tetapi, pendeta itu takjub ketika melihat orang Yahudi yang beragama Islam sedang menulisnya di atas benda tipis yang halus (kertas). Kemudian, ia membawa kepandaian umat Islam itu dalam membuat kertas di Prancis.''

e. Ibnu Tumlus di Alcira (ilmuwan Barat dalam bidang ilmu ukur, ahli musik, ilmu bintang, dan aritmatika)
''Orang Islam telah jauh melampaui kepandaian orang-orang Barat.''

f. Prof Kodrad dalam bukunya Uber den Usprung Deermite literchen Minnesang yang diterbitkan di Swiss tahun 1918 menulis, ''Eropa yang mendapatkan sastra dan nyala api peradaban modern berasal dari Islam.''

g. Pernyatan sejumlah orientalis
''Ilmu filsafat yang ditulis dua filsuf Barat kenamaan, Raymond Lull dan Raymond Martin, sebagian besar merupakan buah pikiran ahli filsafat Islam, yaitu Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali.''
Pernyataan ini menunjukkan bahwa peradaban Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, telah banyak memengaruhi ilmuwan Barat.

from : islamic-center.com

30 Mei 2010

Kerajaan Islam (1500 - sekarang)

Islam mula menapak di Nusantara sekitar kurun ke 11 menerusi Sumatra apabila kerajaan Pasai memeluk agama Islam. Penyebaran awal Islam di Nusantara dilakukan pedagang-pedagang Arab, Cina, India dan Parsi. Selepas itu, proses penyebaran Islam dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melalui perkahwinan, perdagangan tempatan dan peperangan.

Pada kurun ke 14, Kesultanan Melaka berkembang menjadi pusat penyebaran Islam di Nusantara. Setelah kejatuhan Melaka, pusat penyebaran Islam beralih ke Kesultanan Aceh di Sumatra. Pada lewat kurun ke 15, Hampir keseluruhan Nusantara sudah memeluk Islam kecuali di pulau Bali, Filipinadan beberapa kawasan di Borneo, Sulawesi dan Jawa Barat.

Sumatra
  1. Kepaksian Sekala Brak
  2. Kesultanan Aceh
  3. Kesultanan Asahan
  4. Kerajaan Kemuning
  5. Kerajaan Batin Enam Suku
  6. Kerajaan Indragiri
  7. Kesultanan Riau-Lingga
  8. Kesultanan Deli
  9. Kesultanan Jambi
  10. Kesultanan Kota Pinang
  11. Kesultanan Langkat
  12. Kesultanan Pagaruyung
  13. Kesultanan Palembang
  14. Kesultanan Serdang
  15. Kesultanan Siak Sri Inderapura
  16. Kerajaan Pasai
  17. Kesultanan Perlak
Semenanjung Melayu
  1. Kerajaan Naning
  2. Kerajaan Negeri Sembilan
  3. Kerajaan Perlis
  4. Kesultanan Johor
  5. Kesultanan Kedah
  6. Kesultanan Kelantan
  7. Kesultanan Perak
  8. Kesultanan Pahang
  9. Kesultanan Patani
  10. Kesultanan Selangor
  11. Kesultanan Terengganu
  12. Kesultanan Melaka



Jawa
  1. Kesultanan Banten
  2. Kesultanan Cirebon
  3. Kesultanan Demak
  4. Kesultanan Pajang
  5. Kesultanan Mataram
  6. Kesultanan Kartasura
  7. Kerajaan Sumedang Larang
  8. Kasunanan Surakarta
  9. Kesultanan Yogyakarta
  10. Mangkunagaran
  11. Kadipaten Pakualaman
Borneo
  1. Kesultanan Banjar
  2. Kesultanan Bulungan
  3. Kesultanan Brunei
  4. Kesultanan Kutai
  5. Kesultanan Sambas
  6. Kerajaan Tanjungpura
  7. Kesultanan Pontianak
  8. Kesultanan Pasir Balengkong
  9. Kesultanan Gunung Tabur
  10. Kesultanan Sambaliung



Sulawesi
  1. Kerajaan Luwuk
  2. Kerajaan Wajo
  3. Kesultanan Bone
  4. Kesultanan Buton
  5. Kesultanan Gowa
  6. Kesultanan Soppeng
Filipina
  1. Kerajaan Manila
  2. Kesultanan Maguindanao
  3. Kesultanan Sulu



Maluku
  1. Kesultanan Ternate
  2. Kesultanan Tidore
  3. Kesultanan Jailolo
  4. Kesultanan Bacan
  5. Kerajaan Tanah Hitu
sumber : wikipedia
Nusa Tenggara
  1. Kesultanan Bima
  2. Kesultanan Dompu
  3. Kesultanan Samawa